Jakarta - Presiden Rusia Vladimir Putin meneken dekrit yang berisi pemberitahuan ke negara-negara Barat bahwa Rusia bisa menghentikan ekspor dan kesepakatan bisnis. Hal ini sebagai balasan Kremlin terhadap sanksi ekonomi yang dikenakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya atas invasi Rusia ke Ukraina.
Putin, pemimpin tertinggi Rusia sejak 1999, menandatangani dekrit luas pada Selasa, 3 Mei 2022. Isinya adalah larangan ekspor produk dan bahan mentah kepada orang dan entitas dalam daftar sanksi yang pemerintah Rusia dalam waktu 10 hari.
Keputusan Moskow itu bisa membuat kekacauan di pasar karena Rusia dapat menghentikan ekspor kapan saja. Rusia juga bisa menghentikan kontrak dengan entitas atau individu yang telah disetujuinya secara tiba-tiba.
Jakarta - Presiden Rusia Vladimir Putin meneken dekrit yang berisi pemberitahuan ke negara-negara Barat bahwa Rusia bisa menghentikan ekspor dan kesepakatan bisnis. Hal ini sebagai balasan Kremlin terhadap sanksi ekonomi yang dikenakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya atas invasi Rusia ke Ukraina.
Putin, pemimpin tertinggi Rusia sejak 1999, menandatangani dekrit luas pada Selasa, 3 Mei 2022. Isinya adalah larangan ekspor produk dan bahan mentah kepada orang dan entitas dalam daftar sanksi yang pemerintah Rusia dalam waktu 10 hari.
Keputusan Moskow itu bisa membuat kekacauan di pasar karena Rusia dapat menghentikan ekspor kapan saja. Rusia juga bisa menghentikan kontrak dengan entitas atau individu yang telah disetujuinya secara tiba-tiba.
Putin menugaskan pemerintah untuk menyusun daftar individu dan perusahaan asing yang akan dikenai sanksi. Putin juga menetapkan "kriteria tambahan" untuk sejumlah transaksi yang dapat dikenai pembatasan.
"Sekarang semua daftar harus dibuat oleh pemerintah. Itu yang utama dan kita harus menunggu," kata Tatiana Stanovaya, seorang sarjana non-residen di Carnegie Moscow Center dan pendiri firma analisis politik R.Politik.
Sejak Barat memberlakukan sanksi, ekonomi Rusia langsung mengalami kontraksi terbesar sejak tahun-tahun setelah Uni Soviet runtuh pada 1991. Inflasi melonjak di negara tersebut. Sejumlah perusahaan raksasa dunia pun memutuskan hengkang tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina.
